Oleh: mgmpjepangjatim | 7 Desember 2009

Metode Jigsaw untuk pembelajaran HIRAGANA

Banyak sekali metode inovatif yang telah dikembangkan, dan kemungkinan besar akan selalu berkembang, seiring dengan semakin berkembangnya daya inovasi dan kreatifitas para pendidik. Salah satu metode inovatif itu adalah metode jigsaw, yaitu suatu teknik pembelajaran yang lebih memfokuskan pada keaktifan siswa, bukan guru.

Teknik praktisnya adalah :

1. Siswa dikelompokkan secara homogen. Misalnya guru telah menyiapkan tusuk sate, atau tusuk es krim, yang ujungnya telah ditempeli gambar hewan. Jumlah jenis hewan kita sesuaikan dengan jumlah kelompok yang akan kita buat. misal kita ingin membuat 5 kelompok, maka sediakanlah 5 jenis gambar binatang yang berbeda. Contohnya : monyet, gajah, singa, jerapah dan kuda nil. Dari masing-masing jenis hewan tadi, sediakan gambar yang sama sesuai dengan jumlah person di dalam kelompok tersebut.

Jadi, kalau jumlah siswa kita sekelas 25 orang, maka kita harus menyediakan tusuk sate bergambar monyet 5, gajah 5, dan seterusnya.

2. Siswa lalu mengambil tusuk sate, yang ujungnya tersembunyi, terletak di bagian bawah. Siswa yang mengambil gambar hewan yang sama, berkumpul, menjadi kelompok awal.

3. Kemudian guru menginstruksikan agar tiap anggota dalam kelompok berhitung dalam bahasa Jepang, mulai dari 1 sampai 5 (ichi sampai go).

4. Guru menginstruksikan agar anggota yang ketika berhitung, mengucapkan angka 1, harus berkumpul dengan anggota kelompok lain yang juga mengucapkan angka 1, demikian pula untuk yang mengucapkan angka 2, 3, 4 dan 5. Dan kelompok bentukan ini dinamakan kelompok ahli.

5. Guru menyiapkan materi huruf A, I, U, E, O hiragana, yang berisi bentuk, urutan cara penulisan, ciri-ciri atau cara menghafal yang gampang, sampai contoh kosakatanya. (materi ini bisa dirubah sesuai kondisi, misal bukan hanya satu huruf, tapi あ行、か行 dan seterusnya).

6. Guru memberikan materi huruf A pada kelompok 1, huruf I pada kelompok 2, huruf U pada kelompok 3 dst. Siswa diberi jangka waktu tertentu, untuk mempelajari satu materi tersebut.

7. Lalu setiap anggota dalam kelompok ahli kembali pada kelompok awal tadi, untuk mempresentasikan materi yang telah dia pelajari pada kelompok ahli. Dimulai dari siswa yang dari kelompok 1 menjelaskan tentang huruf A, dan seterusnya. Dan jika perlu ada forum diskusi/tanya jawab di dalamnya.

Dengan demikian maka, setiap anggota dalam kelompok awal akan mendapat ilmu yang sama tentang huruf hiragana A, I, U, E, O.

8. Lalu ditunjuk wakil kelompok awal, untuk menyampaikan hasil presentasi/diskusi/tanya jawab. Kelompok lain mengomentari. Guru hanya mengawasi, memotivasi dan membina saja.

Dengan metode semacam, diharapkan siswa lebih aktif, sehingga tidak terlalu bosa dengan metode yang monoton.

Kelebihan : siswa lebih aktif, memungkinkan pengumpulan informasi yang berbeda, sehingga bisa memunculkan diskusi dan tanya jawab.

Kekurangan : Jika guru tidak bisa memanage waktu dengan baik, maka bisa memakan waktu yang agak lama. Susah mencari jumlah tema yang akan dibagikan ke kelompok ahli dengan jumlah siswa/kelompok.

Ehm….bagaimana?? Ada ide lain?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: