Oleh: mgmpjepangjatim | 22 Mei 2009

Collective House

Saya akan cerita dari lihat TV dan dengar. Ada tayangan menarik tentang collective house yang ada di daerah arakawa kalau tak salah dengar. Sebuah mansion di tingkat dua ditata sedemikian rupa hingga bisa jadi tempat tinggal bersama bagi penghuninya. Mereka seperti keluarga besar yang tinggal dalam satu rumah. Untuk keperluan makan sehari hari sepertinya mereka iuran, kebetulan tadi yang disyuting mereka iuran sejumlah 400 yen dengan penghuni sekitar 20 orang . Mereka makan pagi bersama dalam ruang makan yang cukup luas, dan ketika malampun mereka memasak bersama menyiapkan makan untuk semua anggota “keluarga” ini.

Rata-rata penghuninya adalah para orang tua yang yg hidup sendiri, meski ada juga keluarga muda dengan 2 anak yang masih bayi serta anak muda, seorang karyawan perusahaan. Saat mereka ditanya kenapa memilih tinggal di collective house? Seorang bapak-bapak menjawab,” Mereka bukan saudara, bukan teman..tapi ini sangat omoshiroi..” Kemudian dalam kesempatan lain seorang wanita muda mengatakan,” Dulu saya tinggal di mansion yang setiap hari rasanya tidak pernah tegur sapa dengan orang-orang semansion. Tiap hari buka pintu ketemu orang-orang yg tidak dikenal..iyaa da!”

Memang melihat mereka dan aktifitas mereka di “rumah” itu sangat menarik, benar-benar seperti keluarga besar yang sedang tinggal bersama. Saya jadi berpikir, akankah model kehidupan di jepang ini akan berganti? Kembali kesemula, bahwa manusia memang tak bisa hidup sendiri. Rasanya tiap hari saat pergi dan pulang saya hanya menatap bangunan-bangunan apartemen dan mansion yang bisu nan angkuh. Ingat rumah-rumah dikampung halaman yang sepertinya”open” bagi siapa saja, sungguh berbanding terbalik dengan di sini.

Beranda yang kadang banyak tetangga mampir untuk sekedar menyapa, jendela-jendela yang luas memudahkan setor muka, atau teriak ke tetangga ataupun yang lain. (wah kalo ini arida yg kadang keabisan lauk dan ngintip ke tetangga..minta garam toka, sayur bahkan lauk ..he he maklum orang kampung biasa sharing hal begituan). Perasaan “saling” pada manusia memang sudah manusiawi, kadang manusia sendirilah yang mencoba membatasi dengan kecanggihan budaya. Atau bisa dibilang sombong dengan teknologi yang mereka buat hingga melupakan bahwa diri bernama manusia. Alhamdulillah, saya bersyukur karena sepertinya masyarkat jepang dah jenuh dengan hidup sendiri, juga sudah mulai berkembang keluarga yang tinggal bersama orang tuanya. Konsep rumah tinggal bersama orang tuapun sudah mulai dikenalkan..kalau lihat di iklan TV mahal memang, tapi saya salut yang sudah memikirkan dan mengenalkan konsep ini.

sumber TV TBS jepang
by Rida


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: